Siapa sangka wabah Covid-19 akan merajalela dan menjalar seantero dunia? Semua orang, termasuk Pemerintah Indonesia, dibuat kalang kabut olehnya. Para ilmuan masih belum mampu menaklukkan virus berbahaya ini, karena vaksinya belum mampu ditemukan. Entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Segala kebijakan, meliputi himbauan, perintah, juga undang-undang telah banyak beredar. Aktivitas sehari-hari dibatasi. Moda transportasi umum sempat diberhentikan sementara waktu. Hal itu membuat tradisi mudik menjelang lebaran, terpaksa ditiadakan. Berbagai tempat pelayanan publik sudah dinonaktifkan. Proses pengurusan administrasi dan semacamnya dilakukan melalui daring. Banyak tempat kerja dan institusi pendidikan diliburkan. Kerja dari rumah dan tinggal di rumah menjadi bagian dari gerakan nasional. Tujuan diberlakukannya semua itu untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Seperti yang disampaikan oleh Jubir Pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, dari akumulasi data yang berhasil dihimpun dari 34 provinsi, tanggal 4 Juni 2020 terdapat 28.818 kasus yang positif. Data ini terhitung sejak kasus pertama yang diumumkan tanggal 2 Maret 2020 lalu. Jumlah ini merupakan tambahan dari kasus dalam 24 jam terakhir, yakni sebesar 585 kasus. Peningkatan yang cukup drastis dan sering fluktuatif. Para dokter, perawat, relawan beserta gerakan sosial masyarakat yang peduli akan pandemi ini, saling berjuang dan bersinergi melakukan gerakan preventif. Mulai dari penanganan dan pelayanan kesehatan, penyediaan dan pemberian alat pelindung diri (APD), masker, handsainitezer, sembako, penyemprotan disinfektan, hingga bantuan tunai dan nontunai diberikan kepada masyarakat yang terdampak virus ini. Meskipun demikian, cukup banyak dari mereka yang tumbang di medan perjuangan. Kita berduka serta mengapresiasi kinerja mereka yang banyak menguras waktu dan tenaga untuk menangani ribuan pasien. Hanya untuk memastikan situasi kembali normal seperti biasanya. Dampak yang terjadi akibat adanya virus corona ini pun cukup mengenaskan kondisi bangsa dan negara. Menjalar dari sisi sosial, budaya, pendidikan, hingga sisi ekonomi.
Dalam situasi pandemi ini,
kita membutuhkan mental virus. Sebuah mental baru yang bisa menelaah dan mengambil
hikmah dari cara bagaimana virus bekerja. Ibarat manusia, virus itu memiliki
sikap tenang, bijaksana, patuh, tertib, dan konsisten (Terbang). Melalui sikap
terbang itu, ia mampu merenggut ribuan nyawa. Ia selalu tenang, meskipun
manusia mengeluarkan berbagai jurus aturan dan himbauan. Bijaksananya virus
karena ia hanya menarget manusia yang suhu tubuhnya tinggi dan imunitasnya
rendah. Selain itu, virus jika patuh pada prinsipnya, yakni akan menghampiri
keramaian dan kerumunan. Setiap 14 hari, siapa saja yang melakukan kontak
langsung dengan orang lain yang terjangkit, pasti akan tertular. Itulah
ketertiban virus dalam kedisiplinan waktu. Selamanya ia konsisten melakukan itu
semua. Begitulah sejatinya virus bersikap terbang terhadap manusia.
| Sumber gambar: google |
Aksi yang dibutuhkan setiap
orang dalam menghadapi pandemi ini adalah dengan mengamati, memodifikasi dan
menerapkan "sikap terbangnya" virus, seperti yang diuraikan di atas. Melalui sikap
itulah akan muncul sebuah mental dalam dirinya, yang kita sebut dengan mental
virus. Cara menerapkan sikap terbang
untuk menumbuhkan mental virus adalah sebagai berikut.
1.
Tenang
Setiap
individu harus mampu menenangkan pikirannya. Jangan mudah terpengaruh dan
percaya pada asumsi negatif. Meskipun tahu bahwa virus korona berbahaya, namun
bila diri kita tenang, tidak panik, tidak cemas dan santai, maka akan selamat. Pikiran yang
kacau hanya akan melahirkan tindakan salah. Berakibat fatal. Apalagi sampai
membuat tidak tenang orang lain.
2.
Bijaksana
Rekonstruksi
paradigma tentang pandemi ini harus menjadi budaya baru. Masih banyak yang
berbincang soal seluk-beluk hingga dampak virus korona di sana-sini. Sampai
lupa bahwa membentengi diri dengan melaksanakan intisari perbincangan itu ialah
sikap yang paling berpengaruh. Disadari atau tidak, sampai saat ini yang paling
berbahaya di Indonesia bukan virusnya, melainkan stigma negatif publik tentang
virus korona. Tingkat risiko ini bertengger di puncak klasemen daripada angka
kematian yang terus meningkat, bahkan melebihi dari ganasnya virus itu sendiri.
3.
Patuh
Pemerintah,
pemuka agama, dan para ormas telah mengeluarkan himbauan tolong dipatuhi.
Jangan patuh pada kehendak nafsu pribadi. Kepatuhan kita terhadap himbauan dan
aturan tersebut akan mempercepat berakhirnya situasi ini. Laksanakan protokol
kesehatan yang baik dan benar. Sayangi nyawa dirinya dan orang lain.
4.
Tertib
Melakukan
deteksi suhu tubuh dengan tertib juga bagian yang tidak boleh diabaikan oleh
individu yang ingin selamat dari virus korona. Suhu tubuh normal pada seseorang
cukup bervariasi. Bergantung pada faktor usia, jenis kelamin, dan tingkat
aktivitas. Pemeriksaan dapat dilakukan di beberapa bagian tubuh, antara lain
dahi, ketiak, mulut, dan anus. Karena dari suhu tubuh tersebut, seseorang dapat
diketahui sedang sakit atau dalam kondisi sehat.
5.
Konsisten
Segala cara yang
dapat dilakukan untuk terhindar dari virus korona tidak akan berhasil jika kita
tidak konsisten dalam melaksanakan tindakan preventif, termasuk menjaga
kesehatan dan kebersihan diri. Seperti menjaga etika batuk dan bersin, mencuci
tangan, menjaga jarak antarsesama serta tidak bergerumun dengan orang lain. Penularan
virus ini sangat cepat. Tingkat konsistensi kita untuk diri kita sendiri
betul-betul diuji.
Aksi pribadi di tengah pandemi ini harus dilakukan secara masif. Jangan sampai kalah dengan aksi kejahatan virus yang mengalahkan dan merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa. Jika aksi ini diagendakan sebagai gerakan penyadaran secara nasional, dan kalau perlu mendunia, niscaya pandemi/bencana nonalam ini bukan tidak mungkin akan berakhir. Kita sudah rindu akan aktivitas dan kerja produktif seperti 3 bulan lalu. Maka dengan demikian kita akan menjalani kehidupan yang betul-betul stabil, normal, dan lancar seperti lazimnya.
#Mentalivirus #Janganterserah #lawankorona #Saatnyaberaksi #Dirumahsaja
terimakasih informasinya, insya'Allah bermanfaat
ReplyDelete